Dinda (tak) harus minta maaf!

17 Apr 2014

Beginilah karakter masyarakat bangsa kita; mudah terpropokasi pada ‘kasus’ yang tanpa ditimbang lagi salah-benarnya. Langsung men-judge seenak udel. Maksud saya, tanpa melihat porsinya salah bangettt atau salah aja. Sama halnya ketika seorang wanita berteriak “malingggggg…” di sebuah pasar tradisional pada pagi hari yang begitu ramai. Sontak semua orang pasti akan menoleh kearahnya, mau itu tukang becak, ojek, kuli panggul, juragan beras, kantib pasar, dokter yang kebetulan lagi belanja, atau mahasiswa yang sedang nganter ibunya beli sayur. Seketika itu juga, mereka semua bisa saja begitu melihat ada laki-laki muka sangar, gembel dan bertampang mirip copet. Langsung dihantam tanpa ampun ramai-ramai sampai bonyok.

Sekilas begitu kira-kira gambaran mengapa bangsa yang kita cintai ini, kok sudah berlebel negara hukum tapi, masih saja penegakan hukumnya diputuskan sesuka hati. Lalu ramai-ramai menyalahkan hakim, jaksa, polisi, pengacara bahkan langsung ke si pembuat produk Undang-undangnya. Padahal kalau kita mau berbesar hati, tanyalah pada diri kita sendiri. Apakah kita termasuk orang-orang yang tidak sembarangan dalam menghakimi orang lain?

Isi path Dinda

Pada kasus Dinda, misalnya. Saya buat tulisan ini karena begitu resah (hiperbola-) setelah seorang teman saya memposting hasil schreenshot akun Path milik cewek, bernama Dinda. Yang mendadak jadi terkenal di sosial media. Sebabnya, ia begitu frontal menunjukan curhatanya berupa rasa keberatannya (asal kata dari tidak empati) dengan enggan memberi kursi terhadap ibu hamil di dalam KRL commuter line. Dan semua orang yang bereaksi tidak suka dengan kata-kata Dinda itu memposting ulang ‘kecaman’ Dinda itu lewat akun pribadi masing-masing (ada yang di fb, twitter, path) dengan menyatakan ‘kecaman’ kebenciian yang sama, ditambah cacian, makian, kutukan, sumpah serapah terhadap diri Dinda.

Saya tidak bernada membela Dinda disini, namun alangkah samanya moral kita atau mungkin isi hati kita dengan balas mencaci maki, mengutuk, dan sampai menyumpahi orang lain yang kita anggap salah. Bukankah begitu? Seperti yang dilakukan teman saya itu (sebut saja Budi) dan Ranny yang melakukan ‘penyerangan balik’ terhadap Dinda, yang saya kutip dari Kompasmedia.com- Inti penyerangan baliknya, berupa kata-kata bernada getir yang sama :(

Yang celaka adalah, kalau orang yang ikut serta ‘menghakimi’ itu tidak pernah mengalami kondisi pada waktu dan tempat yang sama seperti yang Dinda alami. Maka, ketidakadilan-lah yang jadi kesimpulannya. Yang saya maksud, langsung men-judge sepihak benar dan sepihak salah. Dinda salah dan perempuan hamil benar. Atau Dinda salah bangettt, yang ngebully Dinda salah aja dan Ibu hamil bener aja deeh?! *eh

Yang saya tulis disini, berdasarkan apa yang saya alami sebagai pengguna KRL commuter line. Kalau saya loh! Yang berpikir daripada mengendarai mobil dan ketemu macet hingga 2-3 jam di jalan, lebih baik saya jadi ikan pindang dalam kereta selama 1 jam. Jadi, intinya saya tau pasti bagaimana situasi kepadatan kereta setiap pagi dan sorenya, wayahnya orang berangkat dan pulang kerja. Karena sudah pasti penuh. Kita harus antisipasi dong! Namanya juga naik kendaraan umum, massal! Seperti antisipasi yang dilakukan Dinda, misalnya bangun lebih pagi, mencermati ukuran waktu dari rumah ke-kantor berapa jam. Dan sisakan 30menit untuk tiba lebih awal di stasiun, supaya kalau memungkinkan kita bisa naik kereta yang puter balik ke Bogor dulu-baru ngikut lagi ke Jakarta. Itu semata kita lakukan dengan niat, demi kenyamanan diri kita sendiri didalam kereta (read: dapet duduk) dan tidak mengalami berdesak desakan didalam gerbong.

Hal, tersebut juga sering saya upayakan apabila saya lagi kurang sehat tapi urgent harus hadir dikantor atau kalau hari itu saya lagi malas bediri dan malas berdesak-desakan di dalam kereta. Saya tidak menyalahkan Dinda, kecuali Dinda duduk di kursi prioritas untuk ibu hamil dan dia tidak mau ngalah untuk berdiri! Tabok aja. hehe…tapi, sepertinya tidak ada masyarakat Indonesia yang blass sampai kehilangan empatinya sama sekali macam itu. Nah, digaris bawahi nih! yang jadi masalah adalah ketika bangku prioritas sudah penuh dan naiklah ibu hamil? sedangkan si penumpang yang duduk (telah melakukan upaya seperti yang saya jabarkan sebelumnya hanya demi supaya dapat duduk dikereta).

Kalau memang ada jiwa-jiwa yang ikhlas untuk tetap memberikan kursi pada ibu hamil, silahkan..dan itu adalah sikap yang sangat baik sekali. Tapi, yang perlu di ingat: kita harus menghargai upaya orang lain yang sudah susah payah mencapai sesuatu (1), setiap penumpang KRL commuter line yang telah membeli tiket juga punya hak yang sama dan kita tidak boleh merampas hak orang lain diatas kepentingan hak kita sendiri (2), bicara hak, setiap orang termasuk ibu hamil juga harusnya dapat memberikan yang terbaik bagi dirinya sendiri (dan calon buah hati yang dikandungnya) dengan upaya seperti yang dilakukan Dinda, itu jaga-jaga bila kemungkinan kursi prioritas sudah penuh. Agar pula dirinya tidak menyulitkan orang lain.

Dan yang bisa dipetik (hikmah-read) bagi semua pihak atas fenomena saya kutip seperti judul artikel kebanyakan di berita online. “Dinda yang tidak-empati terhadap ibu hamil”, adalah: betapapun salahnya orang di mata kita, dan betapapun mulianya diri kita, tapi kalau ingin menasehati oranglain yang menurut kita salah. Pliss!!! gunakanlah kalimat dan tutur kata yang santun. Apalagi kalau nasihat yang di sampaikan membawa unsur keagamaan (1). Dan siapapun ibu hamil, atau manula kalau diberi duduk, lepas dari si orang yang memberi ikhlas atau manyun karena diteriaki oranglain suruh berdiri dan bukan atas kesadarannya, sebaiknya jangan lupa ucapkan “terimakasih” karena sepengalaman saya, yang saya alami dan lihat. Banyak tuh, orang yang dibelaiin dikasih duduk lupa berucap ‘terimakasi’ (2) dan kalau hal ini sampai terulang lagi, jangan salahkan Dinda. Pun Dinda tak harus minta maaf. Buat saya yang dilakukan dia tidak sepenuhnya salah dan tidak bisa di katakan benar. Sama seperti saat kita mendengar TKI membunuh majikannya lantaran dirinya ingin diperkosa. Ada unsur ‘pembelaan atas situasi yang merugikan dirinya’. Bukan?.

Namun, tidak semua orang melihat itu. tidak semua dapat menalar bahwa ‘kasus Dinda’ bukan sekedar kekhawatiran banyak orang tentang adanya wanita muda yang tidak punya rasa empati kepada ibu hamil. Tapi, lihat-lah penyedia jasa angkutan transportasinya, Disini: PT KAI atau PT. Commuter line yang harusnya bisa menakar diri. Melihat atau membaca berita ini adalah bukti kegagalan PT. Commuter Line dalam memberi pelayanan fasilitas yang baik bagi para penumpangnya di perjalanan lebih dari 60thn sejak PT. KAI atau Commuter Line ada di Indonesia. Jadi saya tak ragu untuk bilang ini bukan salah Dinda! Dinda tak harus meminta maaf lantara ia tinggal di negara yang ia cintai tapi, belum mapan sistem Transportasinya.


TAGS Dinda tak simpati Ibu hamil di KRL commuter Line


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post